NOVEL CERITA CINTA ONLINE - LOVE STORY ONLINE NOVEL

Thursday, April 28, 2011


I LOVE YOU JUST THE WAY YOU ARE
Part I

Saat ini saat yang sudah kutunggu-tunggu selama 4 tahun terakhir. Seseorang yang special dihatiku akan kembali setelah sekian lama melanjutkan kuliahnya di jepang. Aku bersiap-siap berangkat menuju bandara. Aku sudah berjanji akan menjemputnya saat dia kembali lagi kekota ini. Aku berdandan secantik mungkin, mengenakan  sweater berwarna putih hadiah pemberiannya saat hari valentine 4 tahun lalu sebelum ia memutuskan ingin melanjutkan sudinya dijepang. aku ingin membuatnya terkagum padaku setelah sekian lama tidak berjumpa.
Setibanya dibandara, aku menunggunya penuh was-was. Jantungku berdegub kencang, entah sudah seperti apa penampilannya sekarang??? Apakah ia masih sama seperti Andre yang tangannya berkeringat jika terlalu bersemangat? Apakah ia masih gugup saat berbicara dengan orang yang baru ia kenal? Apakah ia masih romantis walaupun kadang-kadang ia malu menunjukan perhatiannya padaku??? Berbagai pertanyaan mulai hadir dibenakku.
Saat sedang menunggunya sambil berharap-harap cemas, tiba-tiba ada seseorang memelukku dari belakang dengan hangat.  Refleks, aku mencoba melepaskan pelukannya. Tapi pelukannya semakin erat.

“sudahlah jangan dilepaskan… biarkan seperti ini sebentar, lima menit saja. Ternyata  kamu masih menyimpan sweater ini.” Suara yang sepertinya aku kenal.
“umph, Lisa… kau tambah cantik saja ya… apa saja kau lakukan selama 4 tahun ini???” aku tahu siapa yang sedang memelukku.
“umph, sayang… aku kira siapa, sengaja ya buat aku kaget. Huuuuhh, hampir saja aku teriak panggil security.” ujarku manja.
“hehe, iya sayang.. habis sudah lama aku tidak ketemu kamu. Aku kangen” balas Andre sambil melepaskan pelukannya dan memutar tubuhku sambil menatap kedua mataku.

Saat ini aku sedang mengamati perubahan pada dirinya. Secara fisik dia jauh berubah. Andre yang dulu sama tinggi denganku, sekarang sudah lebih tinggi dariku. Gaya rambutnya spike, sangat cocok dengan rambutnya yang lurus. Tubuhnya atletis, kulitnya putih bersih layaknya orang-orang jepang.

“iya, aku juga kangen banget Ndre… kamu sich, kuliah jauh banget. Padahal disini juga banyak tuh universitas yang bagus dan berkualitas.” Kataku sedikit jengkel sambil agak cemberut.
“iya sich.. tapi kamu kan yang bilang kalau aku harus menggapai mimpiku setinggi mungkin? Dan kamu tahu sendiri kalau di  Jepang itu terkenal dengan kedisiplinannya yang tinggi. Lingkungannya juga bagus buat mencari pengalaman. Umph, bilang aja kamu gak mau jauh-jauh dari aku, iya kan????” ledeknya.
“iya sayang, habis lama banget. 4 tahun kan bukan waktu yang lama…”balasku.
“iya aku ngerti, tapi sekarang aku udah disini. Aku ingin membayar semuanya. Aku pengen ngajak kamu jalan-jalan, makan, main game online bareng lagi, pokoknya aku pengen ngelunasin semua hutangku sama kamu” kata-katanya membuatku bahagia. Ternyata dia masih Andreku yang dulu, tidak berubah sama sekali sifatnya. Hanya saja karena ia lama diJepang sehingga kulitnya jauh lebih putih dan bersih. Tentu saja hal ini membuatnya tampak lebih tampan saja.

Setelah cukup melepas rindu, Andre mengajakku pergi kerestoran tempat kami biasa pacaran dulu saat SMA. Kebetulan tas bawaan Andre tidak begitu besar, sehingga Andre tidak perlu repot-repot pulang kerumah dulu untuk menaruh barang-barangnya. Kami pun langsung menuju restoran tempat kami dulu biasa mekan. Andre bilang barang-barangnya ia titipkan pada saudaeranya diTokyo sana. Tadinya aku ingin membawa mobilku tapi Andre menggenggam tanganku dan bilang kalau biar ia saja yang mengemudikannya. Katanya ia ingin memperlakukanku layaknya seorang putri. Aku senang mendengarnya, ternyata Andre masih romantis seperti biasanya. Aku duduk disampingnya, sesekali aku menatap kearahnya. Seakan masih tidak percaya kalau Andre yang dahulu cuek dengan penampilannya dan cenderung tampil apa adanya, sekarang sudah menjadi Andre yang fashionable, dan cool.
Saat sedang asik-asik menatapnya, tangan Andre memegang tangan kananku yang berada diatas pangkuanku. Aku balas menggemgam erat tangannya. Sudah lama moment seperti ini tidak kurasakan. Bahagia rasanya, berharap ia tidak akan meninggalkanku lagi untuk waktu yang lama.

Part II

#Direstoran#

“kamu mau pesan apa sayang?? Biar aku yang bayar semuanya.” Kata Andre.
“aku pesan ayam nasi goreng special  aja yank, kaya biasa…”
“minumnya apa???”
“aku minumnya juice strawberry aja.”
“oke.  Aku pesan mie ayam special aja. Dah lama gak ngerasain mie ayam buatan Indonesia..hehe..”
“lagi siapa suruh kuliah jauh-jauh… diamana-mana itu masih mendingan di negeri sendiri dibanding negeri orang..”
“iya sich, tapi ya lumayan wat cari pengalaman hidup. Ya kan yank??”
“emang kamu dapat pengalaman apa??” tanyaku meledek.
“ya banyak, aku belajar soal kedisiplinan dan loyality dari orang-orang jepang. Mereka kalau sudah berjanji pasti akan berusaha menepatinya, walaupun banyak rintangan yang menghadang.” jelasnya.
“iya aja dech, dari pada dicium..”kataku manja.
“btw, dah lama nie gk kiss kamu yank.. hehe..” ujar Andre genit, seraya mencoba menciumku karena ia duduk tepat disebelahku. Tapi belum sempat bibirnya menciumku, telapak tanganku menghalangi hal itu terjadi.
“ih, genit ya.. awas deket-deket, ntar sendok garpo nempel di pipi..!!” bentakku.
“ih, masih galak aja ni sayang. Dah lama gak ketemu lum juga berubah..” Andre agak kecewa.
“iya donk, kalo aku segampang itu dirayu bukan Lisa namanya…hehe..” balasku manja sambil menggenggam tangannya agar tidak kecewa.
“Lisa, aku sayang kamu..” kata Andre.
Aku menatap kedua bola matanya.
“ia, aku juga sayang kamu.” Balasku padanya.

Kami saling bertatapan, Andre mencium pipi sebelah kananku dan aku memejamkan mataku. Kali ini aku membiarkan hal itu terjadi.

Tak lama berselang pesanan makanan kami pun datang. Saat makan, terkadang Andre menyuapiku. Begitu juga aku menyuapinya beberapa sendok nasi goreng dari piringku. Sungguh moment yang sudah lama tidak terjadi. Betapa bahagianya saat ini, setiap pasangan pasti mengharapkan moment seperti ini, kemesraan seperti ini. Saat-saat berdua, penuh dengan kasih sayang. Saat ada sisa makanan menempel dipipiku, Andre dengan lembutnya membersihkan sisa makanan dari pipiku dengan tissue. Sungguh moment yang indah. Setelah menghabiskan makan siang kami, aku mengantarkan Andre pulang kerumahnya. Andre mencium keningku sebelum ia keluar dari mobil.




PART III

#Dirumahku#

Malam ini turun hujan, dari jendela aku melihat derasnya hujan hingga jalanan sangat becek.

“yah, kenapa hujan sich…??? Padahal rencananya malem ini mau ngajak Andre nonton. Huuufftt..”
Aku menggerutu sendiri..

Walau kecewa, aku mencoba mengibur diriku dengan mendengarkan lagu-lagu K-POP kesukaanku. Walaupun aku hanya mengerti sedikit arti bahasanya, tapi melodi dan irama khas lagu-lagu   K-POP membuatku merasa nyaman mendengarnya.
Saat sedang asik mendengarkan hp ku berdering, ternyata Andre yang menelpon.

“Halo, yank…”
“iya, halo.. umph yank, bisa bukakan gerbang rumah kamu gak..??? aku ada didepan rumah kamu ni..”
“hah, yang bener kamu???” tanyaku.
“iya, tadi mamaku minta dibelikan roti di toko roti yang gak jauh dari sini, makanya aku sekalian mampir.. ya udah tolong bukain pintunya dong… mobilku gak bisa masuk nih..” kata Andre tidak sabar.
“oh, ya udah tunggu ya sayang.. aku bukain dulu pintunya.” Aku mematikan hand phone dan bergegas membukakan pintu gerbang agar mobil Andre bisa masuk.

Andre memarkir mobilnya di depan garasi. Aku memayunginya agar dia tidak sakit karena kehujanan. Dibawah paying itu, Andre memegang tanganku sambil memegangi payung. Andre kupersilahkan duduk di sofa, sambil aku membuatkan teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya.

“sebentar ya, aku buatin teh anget dulu biar kamu gak kedinginan.”
“lho koq kamu sendiri yang buatin..?? memang pembantu kamu kemana.??” Tanyanya.
“bibi lagi jenguk keluarganya dikampung ada yang sakit.. jadi aku mengerjakan pekerjaan rumah sendirian sama mama.. lagi pula kan itung-itung belajar jadi istri yang baik.. hehe…” jelasku. Setelah itu aku kedapur membuatkannya teh hangat.

“sayang, ini diminum dulu tehnya… biar badan kamu hangat.”
“iya, makasih ya sayang..”
Andre meminumnya perlahan karena memang tehnya masih panas.
“nih, makan cemilan juga.. umph, aku suapi ya..??? sini buka mulutnya.. aaaaaa…”
“aaaammmm… nyamm.. nyamm..” Andre mengunyah cemilan.
“anak pinterr.. makannya jangan berantakan ya.. nanti mama cubit lho..!! hehe..” ledekku pada Andre, sambil mencubit pipinya gemas.
“aawww… kok dicubit sih??? Kan yang nyuapin kamu, ya kamu donk yang harusnya disalahin.. lagian nyuapinnya banyak banget.. emang mulutku segede mulut kuda nil?? Awas ya…”
“awas kenapa??? Emang kamu berani sama aku???” tantangku.
“ih, ngeledek.. sini kucubitin kamu biar kapok… uuuhhhhh…”
“aawww… ih sakit taw.. gak mau..! pokoknya gentian.. ni rasain.. uuhhh..”
“wah, ngajak perang cubit-cubitan dia.. ayo, siapa takut..!! ni, terimalah jurus pamungkas..! jurus kuda cubit kambing… eeehhhbbbrrrrr….!!” Andre bergaya seperti kuda yang sedang menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu menyerudk kearah perutku yang sedang duduk diatas sofa.
“wew.. emang ada kuda bisa nyubit??? Punya jari aja enggak..!! hahaha… weesss tidak bisaaa…!!” aku menghindari serudukannya.
“hhiiieeekkkk… bbbbrrrrr…” Andre kembali berusaha menyerudukku. Namun kali ini aku juga berhasil menghindarinya. Namun ternyata kakiku tersandung karpet yang agak tergulung. Aku pun terjatuh dan Andre juga terjatuh menindih tubuhku. Kami berdua bertatapan. Lalu Andre mendekatkan wajahnya kearahku, namun belum sempat kami berciuman aku memutuskan untuk segera bangun dan merapihkan pakaianku yg agak berantakan.
“duuch… sakit, lecet ni siku ku. Kamu sich main seruduk-seruduk aja.” Keluhku sambil mengusap-usap sikuku.
“duch, maaf ya sayang. Hehe… tapi dah lama juga ya kalo diinget-inget kita gk bercanda kaya gini. Dah 4 tahun.” Kata Andre mengingatkan kembali kenangan kami dimasa lalu, sambil mengusap-usap sikuku.
“iya gak papa… aku juga seneng bisa bercanda lagi sama kamu.” Balasku sambil tersenyum kearahnya.

Saat kami sedang mengobrol, hand phone Andre berdering. Andre segera mengangkatnya.

Andre                       :”halo..??”
Penelpon                :”halo… dengan keluarga dari bapak Hartono..?”
Andre                       :”iya betul. Saya putranya. Ada apa ya??”
Penelpon                :”kami ada berita buruk, pak Hartono mengalami kecelakaan. Mobil yang ia kendarai     menabrak pembatas jalan saat menghindari pengemudi motor yang ugal-ugalan dari arah berlawanan.”
Andre                       :”apa??!! Lalu bagaimana keadaan papa sekarang??”
Penelpon                :”beliau tidak sadarkan diri. Kepalanya mengalami pendarahan. Sekarang ada di rumah sakit. Sebaiknya anda segera melihat keadaannya.
Andre                       :”baik pak, terimakasih atas pemberitahuannya. Saya akan segera kesana.”
Penelpon                :”ya sama-sama dik.”

Andre kelihatan panik. Dia bergegas bersiap-siap keluar menuju mobil.
“ada apa yang..? tadi siapa yang telpon..?” Tanyaku penasaran.
“papa.” Andre membuka pintu mobilnya.
“papa..?? maksud kamu..?? ada apa sama papamu Ndre??” aku semakin penasaran.
“papa kecelakaan, sekarang dia gk sadarkan diri dan ada dirumah sakit. Sekarang aku mau kesana.” Jelas Andre dengan nada agak panik.
“OMG..!! aku ikut kamu deh yank..! tgu sebentar aku mau ambil jaket dulu.” Tukasku.
Tapi Andre menarik tanganku.
“gak perlu. Pakai punyaku aja. Ada dimobil. Kita berangkat sekarang.” Jelas Andre.

Kami berangkat menuju rumah sakit untuk melihat keadaan papanya Andre.


PART IV

#Dirumah sakit.

Andre menanyakan kamar tempat ayahnya dirawat pada bagian informasi rumah sakit.
“maaf suster, pasien yang bernama Pak.Hartono dikamar nomor berapa ya??” Tanya Andre dengan agak tidak sabar.
“ Sebentar ya pak, kami cek dulu datanya..” menunggu beberapa saat.
“Umph, pasien yang bernama Pak.Hartono dirawat diruangan 301 ada dilantai 3.” Jelas suster.
“Terimakasih ya suster..” kata Andre.
“Iya pak, terimakasih kembali.” Balas suster.

Andre bergegas mencari kamar 301, aku mengikutinya disampingnya sambil menggenggam tangannya. Sesekali aku memberikan support padanya agar tetap tabah menghadapi cobaan ini. Setelah keluar dari lift dilantai 3, kamar 301 letaknya di ujung lorong. Kami membuka pintu dan masuk kedalam, Andre terdiam seribu bahasa melihat keadaan ayahnya yang terbaring koma diatas ranjang perawatan. Mulutnya memakai masker oksigen untuk membantunya benafas, kepalanya terlihat dibalut oleh perban dan terlihat sedikit noda merah bercak darah diperbannya mungkin sisa pendarahan. Jarum infus tertancap dipergelangan tangannya.

“Papa… pa, bangun ppaa.. ini Andre pa.. Andre kangen sama papa..” Bisik Andre pada papanya.

Memang menurut dokter orang yang dalam keadaan koma masih bisa mendengar suara orang disekitarnya.

“Papa… Andre baru pulang, Andre kangen sama papa. Andre pengen ketemu papa, Andre taw papa sibuk urusan bisnis. Andre pengen ketemu papa, tapi gk dalam keadaan kaya gini pa… hiks.. hiks.. hiks..” Andre meneteskan air matanya sambil meggenggam tangan ayahnya.

 Memang sejak kepulangan Andre ke Indonesia mereka belum pernah bertemu secara langsung. Padahal yang aku tahu  Andre sangat dekat dengan ayahnya. Ayahnya adalah figure yang sangat ia hormati dan banggakan. Ia selalu ingin menjadi seperti ayahnya. Pengusaha sukses namun baik hati.
Aku mengelus bahu Andre, mencoba menenangkannya. Aku ajak Andre duduk dibangku sebelah ranjang. Mencoba memberinya support kembali.

“Yank, aku turut prihatin sama keadaan papa kamu saat ini. Tapi kita gak bisa berbuat apa-apa. Kita serahin aja semua sama dokter dan banyak berdoa demi kesembuhan papa kamu.”
“Makasih yank, kamu selalu ada buat aku saat aku suka dan duka.”
“iya gpp yank, emang udah seharusnya kan kaya gitu. Aku juga seneng koq klo bisa support dan bantu kamu kalo ada yang kamu perluin.”
“makasih banget sayank.”
“iya sayank..” aku menggengam tangannya dan kutaruh diatas pangkuanku.

Dokter bersama perawat masuk untuk memeriksa keadaan papanya Andre.

“Apa anda anggota keluarganya pasien ini??”Tanya sang dokter, sedangkan suster mengecek kondisi papa.
“Iya betul, nama saya Andre. Saya putranya. Bagaimana keadaan ayah saya dokter??” Tanya Andre penasaran.
“Saat ini kami sedang melakukan usaha semampu kami, namun sepertinya kondisi pasien sangat kritis. Pasien kehilangan banyak darah dari pendarahan dikepalanya, namun saat ini kami sudah mentransfer darah untuk pertolongan awal. Untungnya golongan darah pasien mudah menerima transfer darah dari golongan lain, sehingga kami tidak kesulitan mencari kantung darah yang cocok. Selain itu dari hasil MRI dan pemeriksaan secara menyeluruh, kami menemukan terdapat gegar otak dan ada penggumpalan darah diotaknya. Kami akan melakukan operasi untuk mengeluarkan penggumpalan darah di kepalanya. Namun sebelum itu pihak keluarga harus menandatangani beberapa surat pernyataan, apabila nantinya terjadi hal yang tidak diharapkan.” Jelas sang dokter lengkap.
“baiklah dok, kalau itu memang hal terbaik yang harus dilakukan. Soal biaya anda tidak usah cemas dok.” Kata Andre.
“Baiklah kalau begitu, silahkan anda kebagian administrasi untuk menandatangani beberapa surat pernyataan. Sehingga operasi akan dilaksanakan besok. Umph, suster… tolong antarkan saudara Andre ketempat Administrasi.” Pinta dokter.
“baik dokter… Mari pak, sebelah sini.” Balas suster sambil member tahu jalan menuju bagian administrasi.

Setelah menyelesaikan biaya administrasi rumah sakit dan menandatangani surat pernyataan, aku mengajak Andre untuk makan malam. Kebetulan saat itu sudah larut malam, dan kami belum makan sejak berangkat dari rumah tadi. Sambil makan malam kami bercakap-cakap.

“aku gak nyangka yank.. belum sempat aku bertemu papa sejak kepulanganku dari Jepang, tapi pertemuan pertama kami malah seperti ini.” Kata Andre.
“Iya, aku ngerti yank.. semuanya juga gak ada yang mengharapkan terjadi hal seperti ini. Ini musibah, cobaan yank.” Aku mencoba mensupportnya kembali.
“tapi kenapa mesti kaya gini.??” Keluh Andre sedikit kesal.
“ya ampun, kamu jangan begitu dong yank.. mana Andre yang kuat, yang tegar kalo ngadapin masalah?? Inget yank, tuhan gak akan member kita cobaan yang sekiranya hambanya gak akan kuat ngelewatinnya.” Jelasku.

Andre terdiam sejenak.

“yank, ngomong-ngomong koq dari tadi selain kita gk ada keluarga kamu yang jenguk papa sich??” tanyaku.
“Astaga..!! aku lupa ngasih taw mama yank… sebentar ya aku kasih taw dy dulu.” Andre menelpon mamanya.

Andre                   : halo, mama..
Mama Andre     : iya halo.. Andre, kemana aja kamu??? Kenapa belum pulang?? Mama bingung ni dirumah, papa kamu biasanya udah pulang jam segini. Tapi sampe sekarang belum pulang juga.
Andre                   : ma, Andre lagi dirumah sakit. Tadi Andre dapet telepon klo papa kecelakaan. Sekarang papa dirumah sakit. Andre terlalu panik sampe lupa klo belum ngasih taw mama.
Mama Andre     : apa?? Terus gmana kata dokter keadaan papa???
Andre                   : keadaan papa kritis ma, papa mengalami pendarahan di kepala, kata dokter juga ada gegar otak. Kata dokter harus dioperasi. Besok rencananya operasinya dilakukan ma. Andre udah ngurusi administrasi dan segalanya ma.
Mama Andre     : ya udah mama kesana minta diantarin supir aja.
Andre                   : gak usah ma, udah malem juga. Percuma nanti gk bakal boleh masuk kekamar papa. Jam besuk udah lewat ma. Besok aja bareng sama Andre.
Mama Andre     : ya udah… Andre kamu pulang nak, mama sendirian dirumah.
Andre                   : iya ma, ni Andre mau pulang habis nganterin Lisa kerumahnya dulu. Dia yang nemenin
Andre dari tadi ma.
Mama Andre     : ya udah, kamu juga hati-hati ya pulangnya.
Andre                   : iya ma, mama tidur aja dulu sambil nunggu Andre pulang. Soalnya
mungkin agak larut Andre baru nyampe.
Mama Andre     : ya udah, inget hati-hati..!!
Andre                   : iya mama… Andre tutup ya telponnya.
Mama Andre     : ya tutup aja.
Andre                   : ttttuuuuttttt… (Andre menutup telponnya).

“pasti mama kamu cemas banget ya.??” Tanyaku.
“iya, besok kami mau jenguk papa lagi. Sekalian nunggu operasinya selesai dilakukan. Semoga aja gk terjadi hal buruk.” Harap Andre.
“Ammiinnn.” Jawabku.
“ya udah, aku antar kamu pulang aja sekarang. Udah jam 11 nih. Nanti kamu juga dicariin sama ortu kamu. Tadi kan buru-buru jadi gk sempat pamitan.” Ajak Andre.
“ya udah, yuk yank.” Jawabku.

0 comments:

Post a Comment

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme